Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Opini

Yuval Noah Harari: Dunia setelah Virus Corona

Badai ini akan berlalu. Tetapi pilihan yang kita ambil hari ini akan mengubah hidup kita di masa akan datang.   - Yuval Noah Harari SAMPAI sekarang, ketika jarimu menyentuh layar gawai dan mengklik sebuah tautan, pemerintah ingin tahu apa sebenarnya yang diklik jari Anda. Tetapi dengan hadirnya virus corona, fokus jadi bergeser. Sekarang pemerintah ingin mengetahui berapa suhu jari dan tekanan darah di dalam tubuhmu. ... COBA pertimbangkan, misalnya, mencuci tangan dengan sabun. Ini telah menjadi salah satu kemajuan terbesar dalam kebersihan umat manusia. Tindakan sederhana ini menyelamatkan jutaan nyawa tiap tahun. Sementara kita menerimanya begitu saja, baru pada abad ke-19 para ilmuwan menemukan pentingnya mencuci tangan dengan sabun. Sebelumnya, bahkan dokter dan perawat melanjutkan dari satu operasi bedah ke operasi berikutnya tanpa mencuci tangan. ... HARI ini, ada miliaran orang yang setiap hari mencuci tangan, bukan karena mereka takut pada "polisi sabun&quo

Buku Esai

Baiklah, mengawali tahun ini saya dan istri akan berkolaborasi lagi. Kami berdua menulis buku bersama. Tapi berbeda dari sebelumnya, kini kami akan persembahkan esai esai kami. Ya, kali ini tulisan non fiksi ya. Semoga kalian menantikannya di Penerbit Jariah Publishing Intermedia. Order sebelum PO https://bit.ly/bukubukubuku Buku Baru

Bagaimana Saya Membuat Opini

Bagaimana cara menulis opini agar dimuat di media massa. Saya telah merangkumnya di sini. Menjelaskan secara padat dan ringkas agar mudah dipahami oleh semua kalangan yang berminat tulisan opininya dimuat di media massa. Awalnya saya buat tips ini untuk konsumsi pribadi, sehingga saya buat ini lewat aplikasi power-point di hp saya dan isinya saya ketik menggunakan dua jempol tangan saya. Tapi, karena ingin berbagi, makanya saya sunting kembali tulisan ini dan akhirnya saya berpikir tak ada salahnya jika ini di- share di blog. Nah, silakan klik tautan di bawah ini untuk melihatnya segera: Share Cara Membuat Opini by M Galang Pratama.ppsx - 2 MB Baca Juga: Apa Saja yang Bisa Kau Tulis

Kilas Balik: Sebuah Ingatan yang Belum Tentu Berguna

Mei dan hari ini mengingatkan banyak orang tentang sebuah kenangan dua dekade silam. Peristiwa apa gerangan? Ya, 1998 menjadi tahun ini abadi di ingatan sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebab saat itulah Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, turun dari takhtanya. Source: Postingan akun IG @potret_lawas Sampai-sampai Koran Nasional Amerika Serikat, The New York Times , edisi 21 Mei 1998, menjadikan berita itu sebagai headline . Koran itu juga menulis judul besar dengan huruf kapital: "SUHARTO, BESIEGED, STEPS DOWN AFTER 32-YEAR RULE IN INDONESIA" Apa yang menarik dengan ingatan itu di hari ini? Secara sadar kita diingatkan tentang sebuah tuntutan yang saat itu disampaikan oleh beberapa Mahasiswa yang (masih) mewakili (suara) masyarakat. Beberapa poin utama yang menjadi tuntutan terbesar saat itu ialah: Penegakan Supremasi Hukum Pemberantasan KKN Mengadili Soeharto dan para kroninya Amandemen Konstitusi Pencabutan Dwifungsi ABRI Pemberian Oton

Puisi, Perempuan, dan Cyberculture - Esai Mohd. Sabri AR

SEBUAH puisi lahir ketika semesta lambang, galaksi makna dan realitas bertaut. “ Les mots ne sont pos innocences ,”—tak ada kata-kata yang polos—begitu   pendakuan filsuf Prancis, Pierre Bourdieu. Selalu saja ada ruang yang tersisa pada kata: tafsir, hasrat, dan juga kuasa. Bahasa, bagi Bourdieu, bukan sekadar instrumen komunikasi dan modal kultural, tapi juga tindak-sosial. Itu sebab, kapasitas bahasa aktor sosial ditentukan oleh habitus linguistiknya. Dr. Mohd. Sabri AR**   (Source: Kabarselatan.com)          Bahasa selalu diproduksi di dalam habitus dan “pasar linguistik”: sebuah arena tempat dimana wacana tercipta. Mungkin itu sebabnya, Wittgenstein dalam Philosophical Investigations (1953), mengandaikan jika pasar linguistik memiliki language game dan form of life: bahwa setiap bahasa dalam kehidupan yang aneka punya aturan main dan arena yang khas. Senafas dengan Wittgenstein, Bourdieu meletakkan bahasa sebagai sebuah arena, kancah, dan juga pertarungan. Di setia

411

Banyak yang memasang angka itu pada foto profil di media sosialnya. Tiga angka itu merupakan tanggal lahirnya sebuah demonstrasi besar. Media pada saat itu tumbuh seperti ketombe pada rambut lelaki yang jarang mandi, atau kotoran pada gigi manusia yang jarang disikat. Begitu banyak. Bukan hanya dari segi kuantitas, tapi kualitasnya masih perlu ditanyakan. Orang-orang pun menilai semua media pada saat itu, hanya mencari rating tertinggi, bukan kebenaran berita. Empat Satu Satu. Tanggal Empat November. Tahun 2016 ini ternyata mampu menyimpan satu bukti, bahwa pada satu hari di bulan November, manusia berdatangan dari segala pelosok memasuki Kota Ibu Kota Negara. Mereka meneriakkan kalimat takbir. Pakaiannya serba putih. Ada yang memakasi kopiah ada juga yang tidak. Barisan terdepan mereka memegang pelantang. Suaranya tak padam, walau matahari kian mencekam. Pada awalnya "aksi" yang dilakukan ratusan ribu massa yang berdatangan dari segala penjuru itu, terkesan dramatis, ha

April di Ibu Kota Sulsel

ini bukan soal reklamasi Pantai Losari atau tentang "TPA Bintang 5" ini masalah kedaerahan yang tak pernah rampung atas pandangan yang tak pernah saling pandang. jika para wakil rakyat berkata; “kita tidak jadi meraih anggaran 10 persen maka apa pula yang bisa dibangun?" Pak JK hanya menjawab: "lupakan bangun-membangun mari perbaiki moral masyarakat yang lagi sakit dan hampir sekarat."                                         April, 2016 Sources: cdn.tmpo.co

26 Mei, Hari Dalam Berita

Alhamdulillah, sebuah perguliran perantara merambah pada hati kecilku dalam sebuah pola sikap yang membentuk gerak dimensi di raga ini. Memberikan aktualisasi jiwa yang mengubah kebiasaan terdahulu menjadi sebuah kebiasaan yang mengkristalkan perasaan semangat, dan cinta kerja sehingga cita dapat segera terlaksana dengan kuasa sang ilahi. Ini bukan hari biasa. Sebuah masa yang baru kuukir dalam sehari saja, biasanya hanya ada sajak puisi atau syair bergulir panjang hingga tiga hari. Sedangkan ini, hanya lebih kurang 24 jam saja. Tepat hari selasa, pukul 12.00 wita, disebuah gedung besar bernama auditorium. Aku berdiri mengepakkan sayap, mencoba menganulir makna atas apa yang ku dengar; sebuah pembicaraan politik yang terkesan kotor dan keji namun unik dan menarik untuk dikaji. Ketika ratusan manusia sesaat menanti tamu yang ditunggu-tunggu, akan tetapi tak kunjung menampakkan jemarinya walau hanya sesaat. Ya, dia di undang untuk menghadiri suatu diskusi publik yang membahas mengen

MgP, Menulislah!

Sebuah tulisan ini kubuat setelah membaca sebuah artikel dari salah satu guru (dosen) ku di Kampus. Namanya Hadi Daeng Mapuna, nama penanya Hadi DM. Ia menuliskan sebuah artikel berjudul, Ingin Menjadi Penulis? …Menulislah…!!!. Setelah membaca berbagai hal dalam tulisan itu yang memuat berbagai motivasi untuk menulis, maka segera itu pula tulisan ini muncul demi menjawab tantangan yang diberikan oleh sang dosen itu. Namaku Muhammad Galang Pratama, aku punya nama Pena, yakni MgP. Sebuah nama singkat yang tercipta di tahun 2012 silam, ketika aku masih duduk di kelas XI SMA. Saat itu aku mulai menulis di blog yang aku buat sendiri. Nama blognya, emjipi.blogspot.com. aku menulis resensi, menulis hasil wawancaraku dengan teman-teman kelas, menulis sebuah opini hingga berbagai puisi-puisi, aku tuangkan didalam blog itu. Sampai saat ini, aku masih mengisinya jika ada waktu. Selain menulis di blog, aku juga biasa menulis di media sosial seperti facebook. Didalamnya aku tulis kalimat-kalim

Akar dari Masalah Kepemimpinan

Asal Mula Karakter Kepemimpinan dan Sumber Masalahnya Oleh : Muh. Galang Pratama Dunia terus berputar, tahun demi tahun silih berganti. Kita sebagai manusia, terus menapaki roda kehidupan demi mencari esensi dari ke-hidup-an itu sendiri. Kembali kita merefleksikan awal mula kemerdekaan suatu Negara atau awal mula pemerintahan mulai dibangun dari suasana sebelumnya yang begitu mencekam dan jauh dari cahaya kemaslahatan dan kedamaian. Pada saat-saat seperti itu, suatu negara ataupun yang masih dalam bentuk kelompok-kelompok, sangat membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menengahi segala tindak-tanduk masalah yang terjadi. Disinilah pentingnya seorang ketua atau kita bahasakan sebagai seorang pemimpin. Bahkan Nabi Muhammad SAW, pernah berkata, "Apabila ada 3 orang sedang berpergian (musafir) maka hendaklah kamu mengangkat salah seorang imam (pemimpin) diantara kalian.” (HR. Abu Daud). Pada hadis yang lain Rasulullah bersabda yang artinya: Abdullah bin Amr ra, mengabarkan, M

Status Pikir

Banyak Hikmah yang terkandung dalam proses kehidupan 19 jam #0 m3nit dalam sehari. 1Banyak Orang yang menyadari akan hal itu, termasuk Anda, dan 2banyak pula yang tidak menyadari itu, yakni Anda yang merasa "meng-iyakan opini ke2). Hanya yang kedua, banyak menghabiskan waktunya dgn hal yang tidak membangun produktivitas (membuat dirinya berkualitas/bisa 'direkeng') unt dirinya. Termasuk banyak pelajar di dalamnya yang terlibat, trmasuk yg "Mahanya Pelajar". Namun yang ke1, akan tetap mempertahankan pola komunikasinya dalam bingkai masa depan yang cerah serta berupaya untuk "men-sketsa' dirinya agar dibuat Sukses se-segera mungkin. Serta dia-dia yang banyak bekerja dan banyak serius serta menempatkan sesuatu pada 'TEMSIKONWA' alias sesuai Tempat-Situasi-Kondisi-Waktu. Inilah..dan Inilah. Ya, Ini MgP bukan AbC/ Samata Gw, 8/9, 2014. 17.57 WT. dan Keabadian akan muncul pada diri setiap insan jika di dalamnya terdapat suatu rasa kekekalan.

Membaca-Merenung-Mengaplikasikan

Membaca - yang tersurat dan yang tersirat  Membaca adalah proses menambah pengetahuan dan mengasah pemahaman. Adalah kita sebagai manusia yang telah disediakan "lembaran" yang telah menampakkan tulisan. Ada dua hal yang pokok di dapat dari sebuah esensi membaca. Pertama, dengan membaca kita akan lebih sadar bagaimana diri kita, mengetahui kekurangan kita yang nampak akibat disitulah (dalam membaca), kita dapat merasakan bahwa sungguh besar nan luas ilmu pengetahuan itu, sedangkan kita hanya baru mengetahui sebahagian dari itu ketika kita membaca. Nah, hal inilah yang mendorong kita untuk tetap secara konsisten untuk tetap membaca, demi pemahaman akan sadarnya ilmu yang diketahui serta dipahami. Kedua, dengan membaca kita dapat mengerti apa maksud dari suatu hal itu diberikan. Dalam esensi membaca yang kedua ini, kita di-ajar agar bagaimana kita dapat memetik sebuah "hikmah". Dan selama melakukan proses membaca, kita terus berupaya untuk mendapat apa hikmah di

Saya

My photo
M. Galang Pratama
Gowa, Sulawesi Selatan, Indonesia
Anak dari Ibu yang Guru dan Ayah yang Petani dan penjual bunga.

Tayangan Blog